Senin, 30 Juni 2014

Toksikologi Logam Berat

Bandung, Kompas – Sungai Citarum serta Waduk Saguling dan Cirata di Kabupaten Bandung saat ini tercemar logam berat. Jika tidak segera ditanggulangi, dikhawatirkan pencemaran logam berat akan berdampak pada kesehatan masyarakat karena daerah tersebut merupakan sentra budidaya ikan. Demikian hasil penelitian Laboratorium Higiene Industri dan Taksikologi, Departemen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dipaparkan Katharina Oginawati dari laboratorium tersebut kepada wartawan, Rabu (11/6), di Bandung. Waduk Saguling dan Cirata pencemaran logam berat seperti merkuri (Hg), tembaga (Cu), seng (Zn), dan timbal (Pb) sudah melampaui baku mutu. Kadar tembaga di Waduk Cirata 0,008 miligram per liter, padahal Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 menetapkan 0,001 miligram per liter. Kandungan timbal juga 0,03 miligram per liter, tiga kali diatas standar. Kondisi Waduk Saguling lebih buruk karena menjadi tempat pengendapan pertama Sungai Citarum. Kandungan merkuri (Hg) 30 kali di atas batas normal, 0,06 miligram per liter. “Kalau sudah ada cemaran logam, ikan yang ada di situ juga mungkin terkontaminasi melalui rantai makanan. Logam berat akan terakumulasi di tubuh ikan yang akhirnya masuk tubuh manusia yang memakannya,” kata Katharina. Adanya ikan yang tercemar logam berat berhasil dibuktikan dengan penelitian ikan mas dan nila dari Waduk Cirata. Dalam daging ikan ditemukan kandungan merkuri, tembaga dan seng dengan kadar yang cukup membahayakan. “Logam berat itu terkonsentrasi di perut, lemak, dan daging ikan,”tambahnya. Indah Rachmatyah, Peneliti dari Teknik Lingkungan ITB mengimbau agar masyarakat berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar. Hal ini karena akumulasi logam berat di tubuh manusia dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit minamata, bibir sumbing, kerusakan susunan saraf, dan cacat pada bayi. Menurut Indah, penyebab pencemaran adalah banyaknya industri di Bandung. Khusus pencemaran merkuri mungkin karena ada penambangan emas seperti di Soreang dan Pengalengan. Tujuh kawasan industri yang ada adalah Majalaya, Banjaran, Rancaekek, Deyeuhkolot, Ujungberung, Cimahi, dan Padalarang. Setiawan Wangsaatmaja, Kepala Bagian Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat mengatakan, BPLHD telah berupaya mencegah pencemaran tersebut dengan berbagai cara. Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0306/12/iptek/365759.htm

Selasa, 29 April 2014

Penduduk Membludak, Pemungkiman Non Permanen Dimana-mana


oleh: Valentia, Ulfiana, Bayu


Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Jakarta merupakan ibu kota yang juga merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Jumlah penduduk di Jakarta pada tahun 2011 berdasarkan sensus penduduk, mencapai 9,6 juta jiwa dan sebanyak 2,5 juta jiwa warga luar Jakarta yang bekerja di Jakarta pada siang hari. Hal ini yang menyebabkan Jakarta menjadi kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara dan kota urutan yang kedua. Sedangkan luas Jakarta hanya sekitar 661,52 km2. Jika dilakukan perhitungan maka setiap orang di Jakarta hanya memiliki 68,9 m2 belum termasuk penduduk di luar Jakarta yang bekerja di Jakarta.
Jumlah penduduk di Jakarta masih terus bertambah dari adanya migrasi setiap arus balik mudik. Pertambahan penduduk setiap lebaran tercacat sebanyak kurang lebih 2100 jiwa untuk tiap tahunnya. Tak heran banyak tempat bukan pemungkiman dipaksa menjadi pemungkiman penduduk seperti kolong jembatan, bantalan kali dan lainnya. Hasil limbah rumah tangga dari pemungkiman dadakan ini akan terbuang di tempat bukan pembuangan limbah seharusnya. Akibatnya Jakarta menduduki peringkat ketiga terkotor di dunia menurut WHO. 
Sebagai warga negara Indonesia, hal ini menjadi hal yang cukup memprihatinkan. Tinggal di kolong jembatan sebenarnya berbahaya dan tidak baik bagi kesehatan. Akan tetapi jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan mencapai 2000 kepala keluarga. Hunian di kolong jembatan rawan terjadi kebakaran, bahkan dalam 1 tahun terdapat 2 kali kasus kebakaran di kolong jembatan. Selain itu nilai estetika pada kota Jakarta akan ikut menurun.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan antipasi pada penduduk yang tinggal di kolong jembatan. Sejak gurbenur DKI baru mulai menjabat, banyak rumah susun yang dibangun untuk warga dengan rumah non permanen untuk tempat tinggal. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak saja jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan. Seharusnya pemerintah lebih ketat lagi dalam melakukan inspeksi dan memberikan hukuman bagi warga yang melanggar. Kita tidak bisa semata-mata menyalahkan warga yang tetap tinggal di kolong jembatan. Jumlah penduduk yang semakin banyak dan tempat yang terbatas memaksa warga harus tinggal di tempat yang ada. Sehingga pemerintah DKI juga harus membatasi jumlah warga yang masuk ke DKI. Banyak warga Indonesia yang selalu beranggapan bahwa ibukota merupakan kota yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup menjanjikan. Sehingga jika pemerintah ingin membatasi jumlah penduduk yang masuk DKI, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemerataan fasilitas untuk seluruh kota di Indonesia sehingga tidak adanya penumpukan penduduk di satu kota.  Sehingga warga yang tinggal di kolong jembatan tidak ada lagi.



Sumber:  http://www.suarapembaruan.com

Sumber Gambar:http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1350629129/realisasi-pemukiman-kampung-deret
id.celebrity.yahoo.com/foto/lima-juta-warga-jakarta-tinggal-di-permukiman-kumuh-1395677441-slideshow/permukiman-warga-di-kawasan-kolong-jembatan-jelambar-photo-1395677049289.html

Selasa, 01 April 2014

Opini Masalah Banjir

Masalah banjir di Indonesia sudah merupakan kebiasaan tahunan yang harus diderita oleh sebagian besar wilayah jawa. Masalah ini merupakan masalah lama yang hingga sekarng belum pernah terpecahkan solusinya. Karena masalah ini sudah muncul berlarut-larut, pemerintah Indonesia sudah mulai untuk membicarakan proyek penanganan banjir pada pihak Belanda. Pada tanggal 22-28 maret, wakil presiden Budiono sudah melakukan kunjungan ke Belanda untuk mengetahui sistem kerja penanganan banjir di Belanda. Wapres saat di Belanda meninjau, Maeslant Barrier, pintu air yang didesain khusus untuk menahan hujan badai yang sering melanda Belanda pada musim antara bulan Oktober hingga April. Sehingga diharapkan dengan adanya kerja sama Indonesia-Belanda ini dapat menyelesaikan masalah banjir ini.
Masalah banjir sebenarnya bukan semata-mata karena pemerintah. Masalah ini dapat muncul dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat tentang sampah. Sampah yang sembarangan dibuang pada sungai menyebabkan saluran air yang mengelir lebih mengecil yang dapat menyebabkabkan meluapnya air sungai. Proyek kerja sama antara Indonesia-Belanda ini memang bagus akan tetapi jika kesadaran masyarakat tenteng sampah tidak perdah dibenahi maka teknologi dari Belanda sekalipun tidak akan dapat berkerja dengan baik. Teknologi Belanda dapat berfungsi dengan baik di negri asalnya karena adanya kesadaran masyarakat Belanda untuk tetap menjaga lingkungan.



Sumber: http://analisadaily.com/news/read/wapres-dan-menteri-belanda-bahas-penanganan-banjir/18209/2014/04/01

Jumat, 29 November 2013

Non Parametik


Statistika Non parametik?? apa itu??
Statistika Non parametik digunakan jika data yang akan diolah tidak memenuhi asumsi-asumsi statistika parametik. Jadi asumsi statistika parametiknya itu apa??

Asumsi Statistika Parametik (Santoso, 2003):
1.   Data dalam jumlah besar yaitu ≥ 30.
2.   Distribusi data dianggap normal dan metode tertentu seperti uji F (Anova). 
3.   Persyaratan  tambahan berupa kesamaan varians diantara kelompok data.
4.   Data bertipe interval atau rasio.

Nah, jika data yang akan diolah tidak memenuhi asumsi seperti diatas, metode pengolahan yang kita ambil adalah non parametik. Ada banyak  perhitungan yang dapat dilakukan pada statistika parametik ini. contohnya:
Korelasi Spearman dan Kendall Tau
Uji Chi Square
Uji Wilcoxon
Uji  Mann-Whitney (U Test)
Uji Kruskal-Wallis (H Test)
Two Independent Samples Test
Two Related Samples Test
K Independent Sample Test
Metode yang akan dibahas adalah uji Chi square dan uji wilcoxon.

Definisi dari uji wilcoxon adalah sebagai berikut:
Suatu pengujian yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua sampel dependen yang berpasangan atau berkaitan dan digunakan sebagai alternatif pengganti uji  Paired Sample T Test jika data tidak berdistribusi normal. Uji Wilcoxon cocok digunakan apabila kita tidak hanya mengetahui besarnya setiap beda tetapi juga arah harga pengamatan yang bersangkutan, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing beda tersebut. Uji wilcoxon berfungsi untuk menguji perbedaan antar data berpasangan, menguji komparasi antar 2 pengamatan sebelum dan sesudah (before after design) dan mengetahui efektivitas suatu perlakuan (Priyatno,2012).
Asumsi dari uji ini adalah:
1. Data untuk analisis terdiri atas n buah benda. 
2. Sampel X dan Y adalah variabel-variabel acak kontinyu.
3. Data hasil pengukuran adalah data kuantitatif yang tidak diketahui normalitas distribusinya (data interval).
4. Berhadapan dengan kasus sampel yang berhubungan.

Uji dengan metode ini  memiliki 2 jenis penggunaan tabel yaitu one sided dan two sided. perbedaan dari kedua tabel ini adalah pencarian hasil yang akan kita lakukan. jika kita hanya ingin mengetahui terdapat pengaruh yang dilakukan antara sebelum dan sesudah inovasi dapat kita gunakan tabel two sided sedangkan jika ingin mengetahui yang lebih spesifik yaitu lebih besar atau lebih kecil dari sebelumnya menggunakan tabel one sided. untuk mengetahui apakah lebih besar dari sebelumnya, nilai yang dibandingkan adalah negatif, sebaliknya untuk mengetahui apakah lebih kecil dari sebelumya nilai yang dibandingkan adalah nilai positif.

Uji kebebasan digunakan untuk memeriksa hubungan (asosiasi) dari dua peubah kategorik sehingga dapat menyimpulkan apakah kedua peubah tersebut saling bebas (tidak berpengaruh) ataukah keduanya saling bertalian (berpengaruh). Gagasan ini didasarkan atas anggapan bahwa nilai frekuensi observasi mendekati nilai frekuensi harapan jika kategori-kategori independen.
Jika ada hubungan antara dua faktor, maka dikatakan bahwa dua faktor tersebut saling bertalian/dependen tepatnya saling bertalian secara statistik. 
Jika tidak ada hubungan antara dua faktor, maka dikatakan bahwa dua faktor tersebut saling bebas/independen tepatnya saling bebas secara statistik.

Ciri-ciri:
Selalu positif
df = k - 1, dimana k adalah jumlah kategori.  Jadi bentuk distribusi chi square tidak ditentukan banyaknya sampel melainkan banyaknya derajat bebas.
Bentuk distribusi chi square menjulur positif. Semakin besar derajat bebas, semakin mendekati distribusi normal.
Dalam melakukan uji Chi Square, harus memenuhi syarat:
1. Sampel dipilih secara acak.
2. Semua pengamatan dilakukan dengan independen.
3. Setiap sel paling sedikit berisi frekuensi harapan sebesar 1 (satu).
4. Sel-sel dengan frekuensi harapan kurang dari 5 tidak melebihi 20% dari total sel.
        (Cochran, 1954)

Jumat, 08 November 2013

SAMPLING PROBABILISTIK DAN NON PROBABILISTIK

Perencanaan sampling probabilitas
Perencanan yang menentukan probabilitas atau besarnya kemungkinan setiap unsur dijadikan sampel. Faktor pengawasan yang mendasari semua perencanaan sampling probabilitas yang utama ialah sifat keacakan. Sampling ini lebih menitikberatkan pada kemungkinan atau probabilitas atau peluang untuk setiap kejadian.
Klasifikasi sampling probabilistik
1) Simple random sampling
Setiap individu dalam kerangka sampling mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai responden dalam riset. Simple random sampling digunakan apabila populasi merupakan populasi yang homogen dan hanya mengandung satu ciri. Cara melakukan simple random sampling, antara lain:
a) Pengambilan sampel dengan undian terhadap semua populasi, baik dengan pengembalian maupun tanpa pengembalian.
b) Menggunakan tabel random sampling (pengambilan sampel dengan tabel bilangan random)

2) Systematic sampling
Pengambilan sampel secara sistematik. Strategi memilih sampel melalui peluang dan suatu sistem. Sistem adalah strategi yang direncanakan untuk memilih anggota setelah memulai pemilihan acak. Pengambilan sampel dari nomor subjek dengan jarak yang sama (ordinal sampling).

3) Stratified sampling
Kerangka sampling dibagi ke dalam beberapa sub-bagian yang terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai kesamaan karakteristik dan masing-masing kelompok dipilih secara random. Stratified sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan sub kelompok (strata) memiliki jumlah yang terwakili. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok dan antara kelompok tersebut tampak strata atau tingkatan. Teknik ini bertujuan untuk memastikan kelompok/ kategori yang kecil dalam populasi cukup terwakili. Untuk ukuran sampel yang sama, stratified random sampling lebih efisien dibanding simple random sampling.

4) Cluster sampling
Pengambilan sampel secara random dimana populasi dibagi menjadi beberapa cluster dan masing-masing cluster merupakan kelompok individu yang homogen. Penyeleksian sampel dalam kelompok yang dimaksud dalam cluster sampling ini bukan menyeleksi individu secara terpisah. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok yang mempunyai ciri sendiri-sendiri.
Pada stratified sampling mengambil sampel dari tiap strata, pada cluster sampling tidak mengambil dari tiap cluster, tetapi hanya cluster yang dipilih saja. Untuk ukuran sampel yang sama, hasil teknik cluster sampling kurang akurat dibandingkan dengan simple sampling atau stratified sampling.
Cluster sampling terdiri dari Single Stage Cluster Sampling yakni, jika semua anggota cluster menjadi sampel, dan Multistage Cluster Sampling yakni, jika suatu cluster terdiri dari cluster-cluster lagi, dan sampel diambil dari cluster dibawahnya.

5) Multi-stage random sampling
Penarikan sampel secara random melalui beberapa tingkatan. Sampel diturunkan dari populasi secara random sebagai tahapan pertama kemudian dari sampel tersebut ditarik lagi secara random ke dalam sampel yang lebih kecil sebagai tahapan kedua dan seterusnya.

Perencanaan sampling nonprobabilitas
Teknik pengambilan sampel tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tujuan umum dari perencanaan sampling probabilitas ialah memperoleh gambaran kasar dari sekumpulan unsure sampel.
Dalam sampel non probabilitas sukar untuk menentukan jumlah kesalahan sampling, sehingga peneliti tidak dapat menggeneralisasikan secara langsung beberapa temuannya dengan populasi yang lebih besar. Ini karena populasi yang ada sebagian besar tidak teridentifikasi dengan salah satu atau semua variasi sampling nonprobabilitas.
Klasifikasi sampling non-probabilistik
1) Judgement/Purposive sampling
Cara memilih sampel dari suatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia serta sesuai dengan penelitian yang sedang berjalan, sehingga perwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan. Teknik ini digunakan terutama apabila hanya ada sedikit orang yang memiliki keahlian (expertise) di bidang yang sedang diteliti.Teknik ini merupakan pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.

2) Convenience/Opportunity sampling
Memilih unit-unit analisis yang dianggap sesuai oleh peneliti. Dalam pemilihan poin-poin sampel dari kerangka sampling dilakukan secara tidak terstruktur dan arbiter. Teknik ini sering digunakan pada situasi- situasi praktis tertentu. Pemilihan sampel didasarkan pada kemudahan akses.

3) Snowball sampling
Memilih unit-unit yang mempunyai karakteristik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya, misalnya responden pertama menunjuk temannya kemudian teman tersebut menunjuk lagi ke teman lainnya dan seterusnya.

4) Quota sampling
Populasi pertama-tama disegmentasi ke dalam sub kelompok secara mutually exclusive, kemudian penilaia digunakan untuk memilih subjek atau unit dari masing-masing segmen yang didasarkan pada proporsi yang spesifik. Pada teknik ini, pemilihan sampel disesuaikan dengan karakteristik populasi yang telah ditetapkan sampai memenuhi quota yang telah ditentukan.


5) Accidental sampling
Menyeleksi sampel dari orang-orang atau poin-poin yang sudah ada dan cocok. Jika peneliti menggunakan teknik ini, maka yang bersangkutan tidak boleh melakukan generalisasi ke dalam populasi karena tidak dapat mewakili. Jenis sampling seperti ini bermanfaat hanya dalam pengujian awal. Pada teknik ini, pemilihan sampel tidak secara acak dan dengan pertimbangan khusus/tertentu. Teknik ini bertujuan untuk memperoleh sampel sekenanya saja, yang dijumpai saat itu. Accidental sampling merupakan teknik sampling yang sangat dihindari.

Sampling-sampling ini digunakan untuk bahan dalam pembuatan proposal penelitian. proposal penelitian bersifat ilmiah sehingga harus berdasarkan kenyataan yang ada. karena itu lah sangat dibutuhkan sampling sebagai pengumpul data yang selanjutnya dapat diolah sesuai keperluan. perbedaan sampling probabilistik dan non probabilistik terletak pada cara penelitan yang dilakukan. jika melakukan penelitian tentang sosial atau berhubungan dengan manusia maka digunakan sampling non probabilistik. begitu pula dengan sebaliknya, jika penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang belum pernah diketahui atau harus dilakukan pengujian berdasarkan hipotesis-hipotesis yang dibuat, maka digunakan sampling probabilistik.



Sumber:
http://fhienie.wordpress.com/2009/05/22/tekhnik-sampling-probabilitas-dan-non-probabilitas/
http://retnozone.blogspot.com/2012/11/klasifikasi-teknik-sampling.html

Jumat, 18 Oktober 2013

Pengaruh Pendidikan pada Pembangunan

Nama: Valentia Putri Santi
Kelas: 3ID03
NPM: 37411240


BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
            Perkembangan zaman menuntut terjadinya pembangunan dari berbagai aspek. Permasalahan selalu muncul dari setiap pembangunan yang terjadi dan pemecahannya dapat diperoleh dari ilmu pada pendidikan. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Tingkat pendidikan dapat menjadi tolak ukur kekuatan negara.
Pentingnya pendidikan belum disadari oleh masyarakat Indonesia. Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia dan keterpurukan pembangunan di Indonesia. Masalah pendidikan yang terjadi bukan hanya dari kesadaran masyarakat, tetapi juga minimnya usaha pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan.
 Perubahan dalam dunia pendidikan diperlukan Indonesia agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan strategi terbaik agar pembangunan Indonesia dapat berjalan.

1.2       Perumusan Masalah
            Perumusan masalah merupakan pokok inti dari penulisan ini. Perumusan masalah pada penulisan ini adalah bagaimana perbandingan pendidikan pada negara maju dan berkembang dan apa perubahan pada Indonesia untuk mengejar keterpurukan pendidikan yang sedang terjadi.

1.3       Pembatasan Masalah
            Pembatasan masalah digunakan agar masalah yang dibahas tidak menyimpang jauh dari pembahasan. Berikut pembatasan masalah yang digunakan.
1.  Data yang diamati adalah data kuantitatif dan kualitatif.
2.  Pengamatan dilakukan dari segi pendidikan.
3.  Negara maju yang diamati adalah Amerika dan Jepang.
4.  Negara berkembang yang diamati adalah Indonesia.

1.4       Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan digunakan untuk menjabarkan permasalah secara rinci berdasarkan perumusan masalah. Berikut penjabaran tujuan penulisan.
1.  Mengetahui tingkat pendidikan pada negara maju dan berkembang.
2.  Mengetahui tingkat kesadaran masyarakat pada negar maju dan berkembang.
3.  Mengetahui kebijakan pemerintah tentang pendidikan pada negara maju dan berkembang.
4.  Mengetahui perubahan yang diperlukan Indonesia.