Read and you know... May i'm not clever person.. but i wanna share what i know...
Senin, 30 Juni 2014
Toksikologi Logam Berat
Bandung, Kompas – Sungai Citarum serta Waduk Saguling dan Cirata di
Kabupaten Bandung saat ini tercemar logam berat. Jika tidak segera
ditanggulangi, dikhawatirkan pencemaran logam berat akan berdampak pada
kesehatan masyarakat karena daerah tersebut merupakan sentra budidaya ikan.
Demikian hasil penelitian Laboratorium Higiene Industri dan Taksikologi,
Departemen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), yang
dipaparkan Katharina Oginawati dari laboratorium tersebut kepada wartawan,
Rabu (11/6), di Bandung.
Waduk Saguling dan Cirata pencemaran logam berat seperti merkuri (Hg),
tembaga (Cu), seng (Zn), dan timbal (Pb) sudah melampaui baku mutu. Kadar
tembaga di Waduk Cirata 0,008 miligram per liter, padahal Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 menetapkan 0,001 miligram per liter.
Kandungan timbal juga 0,03 miligram per liter, tiga kali diatas standar.
Kondisi Waduk Saguling lebih buruk karena menjadi tempat pengendapan
pertama Sungai Citarum. Kandungan merkuri (Hg) 30 kali di atas batas
normal, 0,06 miligram per liter.
“Kalau sudah ada cemaran logam, ikan yang ada di situ juga mungkin
terkontaminasi melalui rantai makanan. Logam berat akan terakumulasi di
tubuh ikan yang akhirnya masuk tubuh manusia yang memakannya,” kata Katharina.
Adanya ikan yang tercemar logam berat berhasil dibuktikan dengan penelitian
ikan mas dan nila dari Waduk Cirata. Dalam daging ikan ditemukan kandungan
merkuri, tembaga dan seng dengan kadar yang cukup membahayakan. “Logam
berat itu terkonsentrasi di perut, lemak, dan daging ikan,”tambahnya.
Indah Rachmatyah, Peneliti dari Teknik Lingkungan ITB mengimbau agar
masyarakat berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar. Hal ini karena
akumulasi logam berat di tubuh manusia dalam jangka panjang dapat
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit minamata, bibir
sumbing, kerusakan susunan saraf, dan cacat pada bayi.
Menurut Indah, penyebab pencemaran adalah banyaknya industri di Bandung.
Khusus pencemaran merkuri mungkin karena ada penambangan emas seperti di
Soreang dan Pengalengan. Tujuh kawasan industri yang ada adalah Majalaya,
Banjaran, Rancaekek, Deyeuhkolot, Ujungberung, Cimahi, dan Padalarang.
Setiawan Wangsaatmaja, Kepala Bagian Pengendalian Kerusakan Lingkungan,
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat mengatakan,
BPLHD telah berupaya mencegah pencemaran tersebut dengan berbagai cara.
Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0306/12/iptek/365759.htm
Kamis, 29 Mei 2014
Selasa, 29 April 2014
Penduduk Membludak, Pemungkiman Non Permanen Dimana-mana
oleh: Valentia, Ulfiana, Bayu
Indonesia merupakan
negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia.
Jakarta merupakan ibu kota yang juga merupakan kota yang memiliki jumlah
penduduk terbanyak di Indonesia. Jumlah penduduk di Jakarta pada tahun 2011
berdasarkan sensus penduduk, mencapai 9,6 juta jiwa dan sebanyak 2,5 juta jiwa
warga luar Jakarta yang bekerja di Jakarta pada siang hari. Hal ini yang
menyebabkan Jakarta menjadi kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara dan
kota urutan yang kedua. Sedangkan luas Jakarta hanya sekitar 661,52 km2.
Jika dilakukan perhitungan maka setiap orang di Jakarta hanya memiliki 68,9 m2
belum termasuk penduduk di luar Jakarta yang bekerja di Jakarta.
Jumlah penduduk di Jakarta
masih terus bertambah dari adanya migrasi setiap arus balik mudik. Pertambahan
penduduk setiap lebaran tercacat sebanyak kurang lebih 2100 jiwa untuk tiap
tahunnya. Tak heran banyak tempat bukan pemungkiman dipaksa menjadi pemungkiman
penduduk seperti kolong jembatan, bantalan kali dan lainnya. Hasil limbah rumah
tangga dari pemungkiman dadakan ini akan terbuang di tempat bukan pembuangan
limbah seharusnya. Akibatnya Jakarta menduduki peringkat ketiga terkotor di
dunia menurut WHO.
Sebagai warga negara
Indonesia, hal ini menjadi hal yang cukup memprihatinkan. Tinggal di kolong
jembatan sebenarnya berbahaya dan tidak baik bagi kesehatan. Akan tetapi jumlah
warga yang tinggal di kolong jembatan mencapai 2000 kepala keluarga. Hunian di
kolong jembatan rawan terjadi kebakaran, bahkan dalam 1 tahun terdapat 2 kali
kasus kebakaran di kolong jembatan. Selain itu nilai estetika pada kota Jakarta
akan ikut menurun.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan antipasi pada penduduk yang tinggal di kolong jembatan. Sejak gurbenur DKI baru mulai menjabat, banyak rumah susun yang dibangun untuk warga dengan rumah non permanen untuk tempat tinggal. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak saja jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan. Seharusnya pemerintah lebih ketat lagi dalam melakukan inspeksi dan memberikan hukuman bagi warga yang melanggar. Kita tidak bisa semata-mata menyalahkan warga yang tetap tinggal di kolong jembatan. Jumlah penduduk yang semakin banyak dan tempat yang terbatas memaksa warga harus tinggal di tempat yang ada. Sehingga pemerintah DKI juga harus membatasi jumlah warga yang masuk ke DKI. Banyak warga Indonesia yang selalu beranggapan bahwa ibukota merupakan kota yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup menjanjikan. Sehingga jika pemerintah ingin membatasi jumlah penduduk yang masuk DKI, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemerataan fasilitas untuk seluruh kota di Indonesia sehingga tidak adanya penumpukan penduduk di satu kota. Sehingga warga yang tinggal di kolong jembatan tidak ada lagi.
Sumber: http://www.suarapembaruan.com
Sumber Gambar:http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1350629129/realisasi-pemukiman-kampung-deret
id.celebrity.yahoo.com/foto/lima-juta-warga-jakarta-tinggal-di-permukiman-kumuh-1395677441-slideshow/permukiman-warga-di-kawasan-kolong-jembatan-jelambar-photo-1395677049289.html
Selasa, 01 April 2014
Opini Masalah Banjir
Masalah banjir di Indonesia sudah merupakan kebiasaan tahunan yang harus diderita oleh sebagian besar wilayah jawa. Masalah ini merupakan masalah lama yang hingga sekarng belum pernah terpecahkan solusinya. Karena masalah ini sudah muncul berlarut-larut, pemerintah Indonesia sudah mulai untuk membicarakan proyek penanganan banjir pada pihak Belanda. Pada tanggal 22-28 maret, wakil presiden Budiono sudah melakukan kunjungan ke Belanda untuk mengetahui sistem kerja penanganan banjir di Belanda. Wapres saat di Belanda meninjau, Maeslant Barrier, pintu air yang didesain khusus untuk menahan hujan badai yang sering melanda Belanda pada musim antara bulan Oktober hingga April. Sehingga diharapkan dengan adanya kerja sama Indonesia-Belanda ini dapat menyelesaikan masalah banjir ini.
Masalah banjir sebenarnya bukan semata-mata karena pemerintah. Masalah ini dapat muncul dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat tentang sampah. Sampah yang sembarangan dibuang pada sungai menyebabkan saluran air yang mengelir lebih mengecil yang dapat menyebabkabkan meluapnya air sungai. Proyek kerja sama antara Indonesia-Belanda ini memang bagus akan tetapi jika kesadaran masyarakat tenteng sampah tidak perdah dibenahi maka teknologi dari Belanda sekalipun tidak akan dapat berkerja dengan baik. Teknologi Belanda dapat berfungsi dengan baik di negri asalnya karena adanya kesadaran masyarakat Belanda untuk tetap menjaga lingkungan.
Sumber: http://analisadaily.com/news/read/wapres-dan-menteri-belanda-bahas-penanganan-banjir/18209/2014/04/01
Jumat, 29 November 2013
Non Parametik
Statistika
Non parametik?? apa itu??
Statistika Non
parametik digunakan jika data yang akan diolah tidak memenuhi asumsi-asumsi
statistika parametik. Jadi asumsi statistika parametiknya itu apa??
Asumsi Statistika Parametik (Santoso, 2003):
1. Data dalam
jumlah besar yaitu ≥ 30.
2. Distribusi
data dianggap normal dan metode tertentu seperti uji F (Anova).
3.
Persyaratan tambahan berupa kesamaan varians diantara kelompok data.
4. Data bertipe
interval atau rasio.
Nah, jika data yang akan diolah tidak memenuhi asumsi seperti diatas, metode pengolahan yang kita ambil adalah non parametik. Ada banyak perhitungan yang dapat dilakukan pada statistika parametik ini. contohnya:
Korelasi Spearman dan
Kendall Tau
Uji Chi Square
Uji Wilcoxon
Uji Mann-Whitney
(U Test)
Uji Kruskal-Wallis (H
Test)
Two Independent Samples
Test
Two Related Samples
Test
K Independent Sample
Test
Metode yang akan
dibahas adalah uji Chi square dan uji wilcoxon.
Definisi dari uji wilcoxon adalah sebagai berikut:
Suatu pengujian yang
digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua sampel dependen
yang berpasangan atau berkaitan dan digunakan sebagai alternatif pengganti
uji Paired Sample T Test jika data tidak berdistribusi normal. Uji
Wilcoxon cocok digunakan apabila kita tidak hanya mengetahui besarnya setiap
beda tetapi juga arah harga pengamatan yang bersangkutan, maka kita dapat
menetapkan peringkat untuk masing-masing beda tersebut. Uji wilcoxon berfungsi
untuk menguji perbedaan antar data berpasangan, menguji komparasi antar 2
pengamatan sebelum dan sesudah (before after design) dan mengetahui efektivitas
suatu perlakuan (Priyatno,2012).
Asumsi dari uji ini
adalah:
1. Data untuk analisis
terdiri atas n buah benda.
2. Sampel X dan Y
adalah variabel-variabel acak kontinyu.
3. Data hasil
pengukuran adalah data kuantitatif yang tidak diketahui normalitas
distribusinya (data interval).
4. Berhadapan dengan
kasus sampel yang berhubungan.
Uji dengan metode ini
memiliki 2 jenis penggunaan tabel yaitu one sided dan two sided.
perbedaan dari kedua tabel ini adalah pencarian hasil yang akan kita lakukan.
jika kita hanya ingin mengetahui terdapat pengaruh yang dilakukan antara
sebelum dan sesudah inovasi dapat kita gunakan tabel two sided sedangkan jika
ingin mengetahui yang lebih spesifik yaitu lebih besar atau lebih kecil dari
sebelumnya menggunakan tabel one sided. untuk mengetahui apakah lebih besar
dari sebelumnya, nilai yang dibandingkan adalah negatif, sebaliknya untuk
mengetahui apakah lebih kecil dari sebelumya nilai yang dibandingkan
adalah nilai positif.
Uji kebebasan digunakan
untuk memeriksa hubungan (asosiasi) dari dua peubah kategorik sehingga dapat
menyimpulkan apakah kedua peubah tersebut saling bebas (tidak berpengaruh)
ataukah keduanya saling bertalian (berpengaruh). Gagasan ini didasarkan atas
anggapan bahwa nilai frekuensi observasi mendekati nilai frekuensi harapan jika
kategori-kategori independen.
Jika ada hubungan
antara dua faktor, maka dikatakan bahwa dua faktor tersebut saling
bertalian/dependen tepatnya saling bertalian secara statistik.
Jika tidak ada hubungan
antara dua faktor, maka dikatakan bahwa dua faktor tersebut saling
bebas/independen tepatnya saling bebas secara statistik.
Ciri-ciri:
Selalu positif
df = k - 1, dimana k
adalah jumlah kategori. Jadi bentuk distribusi chi square tidak
ditentukan banyaknya sampel melainkan banyaknya derajat bebas.
Bentuk distribusi chi
square menjulur positif. Semakin besar derajat bebas, semakin mendekati
distribusi normal.
Dalam melakukan uji Chi
Square, harus memenuhi syarat:
1. Sampel dipilih
secara acak.
2. Semua pengamatan
dilakukan dengan independen.
3. Setiap sel paling sedikit
berisi frekuensi harapan sebesar 1 (satu).
4. Sel-sel dengan
frekuensi harapan kurang dari 5 tidak melebihi 20% dari total sel.
(Cochran, 1954)
Jumat, 08 November 2013
SAMPLING PROBABILISTIK DAN NON PROBABILISTIK
Perencanaan sampling probabilitas
Perencanan yang menentukan probabilitas atau besarnya kemungkinan setiap unsur dijadikan sampel. Faktor pengawasan yang mendasari semua perencanaan sampling probabilitas yang utama ialah sifat keacakan. Sampling ini lebih menitikberatkan pada kemungkinan atau probabilitas atau peluang untuk setiap kejadian.
Klasifikasi sampling probabilistik
1) Simple random sampling
Setiap individu dalam kerangka sampling mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai responden dalam riset. Simple random sampling digunakan apabila populasi merupakan populasi yang homogen dan hanya mengandung satu ciri. Cara melakukan simple random sampling, antara lain:
a) Pengambilan sampel dengan undian terhadap semua populasi, baik dengan pengembalian maupun tanpa pengembalian.
b) Menggunakan tabel random sampling (pengambilan sampel dengan tabel bilangan random)
2) Systematic sampling
Pengambilan sampel secara sistematik. Strategi memilih sampel melalui peluang dan suatu sistem. Sistem adalah strategi yang direncanakan untuk memilih anggota setelah memulai pemilihan acak. Pengambilan sampel dari nomor subjek dengan jarak yang sama (ordinal sampling).
3) Stratified sampling
Kerangka sampling dibagi ke dalam beberapa sub-bagian yang terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai kesamaan karakteristik dan masing-masing kelompok dipilih secara random. Stratified sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan sub kelompok (strata) memiliki jumlah yang terwakili. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok dan antara kelompok tersebut tampak strata atau tingkatan. Teknik ini bertujuan untuk memastikan kelompok/ kategori yang kecil dalam populasi cukup terwakili. Untuk ukuran sampel yang sama, stratified random sampling lebih efisien dibanding simple random sampling.
4) Cluster sampling
Pengambilan sampel secara random dimana populasi dibagi menjadi beberapa cluster dan masing-masing cluster merupakan kelompok individu yang homogen. Penyeleksian sampel dalam kelompok yang dimaksud dalam cluster sampling ini bukan menyeleksi individu secara terpisah. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok yang mempunyai ciri sendiri-sendiri.
Pada stratified sampling mengambil sampel dari tiap strata, pada cluster sampling tidak mengambil dari tiap cluster, tetapi hanya cluster yang dipilih saja. Untuk ukuran sampel yang sama, hasil teknik cluster sampling kurang akurat dibandingkan dengan simple sampling atau stratified sampling.
Cluster sampling terdiri dari Single Stage Cluster Sampling yakni, jika semua anggota cluster menjadi sampel, dan Multistage Cluster Sampling yakni, jika suatu cluster terdiri dari cluster-cluster lagi, dan sampel diambil dari cluster dibawahnya.
5) Multi-stage random sampling
Penarikan sampel secara random melalui beberapa tingkatan. Sampel diturunkan dari populasi secara random sebagai tahapan pertama kemudian dari sampel tersebut ditarik lagi secara random ke dalam sampel yang lebih kecil sebagai tahapan kedua dan seterusnya.
Perencanaan sampling nonprobabilitas
Teknik pengambilan sampel tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tujuan umum dari perencanaan sampling probabilitas ialah memperoleh gambaran kasar dari sekumpulan unsure sampel.
Dalam sampel non probabilitas sukar untuk menentukan jumlah kesalahan sampling, sehingga peneliti tidak dapat menggeneralisasikan secara langsung beberapa temuannya dengan populasi yang lebih besar. Ini karena populasi yang ada sebagian besar tidak teridentifikasi dengan salah satu atau semua variasi sampling nonprobabilitas.
Klasifikasi sampling non-probabilistik
1) Judgement/Purposive sampling
Cara memilih sampel dari suatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia serta sesuai dengan penelitian yang sedang berjalan, sehingga perwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan. Teknik ini digunakan terutama apabila hanya ada sedikit orang yang memiliki keahlian (expertise) di bidang yang sedang diteliti.Teknik ini merupakan pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.
2) Convenience/Opportunity sampling
Memilih unit-unit analisis yang dianggap sesuai oleh peneliti. Dalam pemilihan poin-poin sampel dari kerangka sampling dilakukan secara tidak terstruktur dan arbiter. Teknik ini sering digunakan pada situasi- situasi praktis tertentu. Pemilihan sampel didasarkan pada kemudahan akses.
3) Snowball sampling
Memilih unit-unit yang mempunyai karakteristik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya, misalnya responden pertama menunjuk temannya kemudian teman tersebut menunjuk lagi ke teman lainnya dan seterusnya.
4) Quota sampling
Populasi pertama-tama disegmentasi ke dalam sub kelompok secara mutually exclusive, kemudian penilaia digunakan untuk memilih subjek atau unit dari masing-masing segmen yang didasarkan pada proporsi yang spesifik. Pada teknik ini, pemilihan sampel disesuaikan dengan karakteristik populasi yang telah ditetapkan sampai memenuhi quota yang telah ditentukan.
5) Accidental sampling
Menyeleksi sampel dari orang-orang atau poin-poin yang sudah ada dan cocok. Jika peneliti menggunakan teknik ini, maka yang bersangkutan tidak boleh melakukan generalisasi ke dalam populasi karena tidak dapat mewakili. Jenis sampling seperti ini bermanfaat hanya dalam pengujian awal. Pada teknik ini, pemilihan sampel tidak secara acak dan dengan pertimbangan khusus/tertentu. Teknik ini bertujuan untuk memperoleh sampel sekenanya saja, yang dijumpai saat itu. Accidental sampling merupakan teknik sampling yang sangat dihindari.
Sampling-sampling ini digunakan untuk bahan dalam pembuatan proposal penelitian. proposal penelitian bersifat ilmiah sehingga harus berdasarkan kenyataan yang ada. karena itu lah sangat dibutuhkan sampling sebagai pengumpul data yang selanjutnya dapat diolah sesuai keperluan. perbedaan sampling probabilistik dan non probabilistik terletak pada cara penelitan yang dilakukan. jika melakukan penelitian tentang sosial atau berhubungan dengan manusia maka digunakan sampling non probabilistik. begitu pula dengan sebaliknya, jika penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang belum pernah diketahui atau harus dilakukan pengujian berdasarkan hipotesis-hipotesis yang dibuat, maka digunakan sampling probabilistik.
Sumber:
http://fhienie.wordpress.com/2009/05/22/tekhnik-sampling-probabilitas-dan-non-probabilitas/
http://retnozone.blogspot.com/2012/11/klasifikasi-teknik-sampling.html
Perencanan yang menentukan probabilitas atau besarnya kemungkinan setiap unsur dijadikan sampel. Faktor pengawasan yang mendasari semua perencanaan sampling probabilitas yang utama ialah sifat keacakan. Sampling ini lebih menitikberatkan pada kemungkinan atau probabilitas atau peluang untuk setiap kejadian.
Klasifikasi sampling probabilistik
1) Simple random sampling
Setiap individu dalam kerangka sampling mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai responden dalam riset. Simple random sampling digunakan apabila populasi merupakan populasi yang homogen dan hanya mengandung satu ciri. Cara melakukan simple random sampling, antara lain:
a) Pengambilan sampel dengan undian terhadap semua populasi, baik dengan pengembalian maupun tanpa pengembalian.
b) Menggunakan tabel random sampling (pengambilan sampel dengan tabel bilangan random)
2) Systematic sampling
Pengambilan sampel secara sistematik. Strategi memilih sampel melalui peluang dan suatu sistem. Sistem adalah strategi yang direncanakan untuk memilih anggota setelah memulai pemilihan acak. Pengambilan sampel dari nomor subjek dengan jarak yang sama (ordinal sampling).
3) Stratified sampling
Kerangka sampling dibagi ke dalam beberapa sub-bagian yang terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai kesamaan karakteristik dan masing-masing kelompok dipilih secara random. Stratified sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan sub kelompok (strata) memiliki jumlah yang terwakili. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok dan antara kelompok tersebut tampak strata atau tingkatan. Teknik ini bertujuan untuk memastikan kelompok/ kategori yang kecil dalam populasi cukup terwakili. Untuk ukuran sampel yang sama, stratified random sampling lebih efisien dibanding simple random sampling.
4) Cluster sampling
Pengambilan sampel secara random dimana populasi dibagi menjadi beberapa cluster dan masing-masing cluster merupakan kelompok individu yang homogen. Penyeleksian sampel dalam kelompok yang dimaksud dalam cluster sampling ini bukan menyeleksi individu secara terpisah. Teknik ini digunakan apabila di dalam populasi terdapat kelompok-kelompok yang mempunyai ciri sendiri-sendiri.
Pada stratified sampling mengambil sampel dari tiap strata, pada cluster sampling tidak mengambil dari tiap cluster, tetapi hanya cluster yang dipilih saja. Untuk ukuran sampel yang sama, hasil teknik cluster sampling kurang akurat dibandingkan dengan simple sampling atau stratified sampling.
Cluster sampling terdiri dari Single Stage Cluster Sampling yakni, jika semua anggota cluster menjadi sampel, dan Multistage Cluster Sampling yakni, jika suatu cluster terdiri dari cluster-cluster lagi, dan sampel diambil dari cluster dibawahnya.
5) Multi-stage random sampling
Penarikan sampel secara random melalui beberapa tingkatan. Sampel diturunkan dari populasi secara random sebagai tahapan pertama kemudian dari sampel tersebut ditarik lagi secara random ke dalam sampel yang lebih kecil sebagai tahapan kedua dan seterusnya.
Perencanaan sampling nonprobabilitas
Teknik pengambilan sampel tidak member peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tujuan umum dari perencanaan sampling probabilitas ialah memperoleh gambaran kasar dari sekumpulan unsure sampel.
Dalam sampel non probabilitas sukar untuk menentukan jumlah kesalahan sampling, sehingga peneliti tidak dapat menggeneralisasikan secara langsung beberapa temuannya dengan populasi yang lebih besar. Ini karena populasi yang ada sebagian besar tidak teridentifikasi dengan salah satu atau semua variasi sampling nonprobabilitas.
Klasifikasi sampling non-probabilistik
1) Judgement/Purposive sampling
Cara memilih sampel dari suatu populasi didasarkan pada informasi yang tersedia serta sesuai dengan penelitian yang sedang berjalan, sehingga perwakilannya terhadap populasi dapat dipertanggungjawabkan. Teknik ini digunakan terutama apabila hanya ada sedikit orang yang memiliki keahlian (expertise) di bidang yang sedang diteliti.Teknik ini merupakan pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.
2) Convenience/Opportunity sampling
Memilih unit-unit analisis yang dianggap sesuai oleh peneliti. Dalam pemilihan poin-poin sampel dari kerangka sampling dilakukan secara tidak terstruktur dan arbiter. Teknik ini sering digunakan pada situasi- situasi praktis tertentu. Pemilihan sampel didasarkan pada kemudahan akses.
3) Snowball sampling
Memilih unit-unit yang mempunyai karakteristik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya, misalnya responden pertama menunjuk temannya kemudian teman tersebut menunjuk lagi ke teman lainnya dan seterusnya.
4) Quota sampling
Populasi pertama-tama disegmentasi ke dalam sub kelompok secara mutually exclusive, kemudian penilaia digunakan untuk memilih subjek atau unit dari masing-masing segmen yang didasarkan pada proporsi yang spesifik. Pada teknik ini, pemilihan sampel disesuaikan dengan karakteristik populasi yang telah ditetapkan sampai memenuhi quota yang telah ditentukan.
5) Accidental sampling
Menyeleksi sampel dari orang-orang atau poin-poin yang sudah ada dan cocok. Jika peneliti menggunakan teknik ini, maka yang bersangkutan tidak boleh melakukan generalisasi ke dalam populasi karena tidak dapat mewakili. Jenis sampling seperti ini bermanfaat hanya dalam pengujian awal. Pada teknik ini, pemilihan sampel tidak secara acak dan dengan pertimbangan khusus/tertentu. Teknik ini bertujuan untuk memperoleh sampel sekenanya saja, yang dijumpai saat itu. Accidental sampling merupakan teknik sampling yang sangat dihindari.
Sampling-sampling ini digunakan untuk bahan dalam pembuatan proposal penelitian. proposal penelitian bersifat ilmiah sehingga harus berdasarkan kenyataan yang ada. karena itu lah sangat dibutuhkan sampling sebagai pengumpul data yang selanjutnya dapat diolah sesuai keperluan. perbedaan sampling probabilistik dan non probabilistik terletak pada cara penelitan yang dilakukan. jika melakukan penelitian tentang sosial atau berhubungan dengan manusia maka digunakan sampling non probabilistik. begitu pula dengan sebaliknya, jika penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang belum pernah diketahui atau harus dilakukan pengujian berdasarkan hipotesis-hipotesis yang dibuat, maka digunakan sampling probabilistik.
Sumber:
http://fhienie.wordpress.com/2009/05/22/tekhnik-sampling-probabilitas-dan-non-probabilitas/
http://retnozone.blogspot.com/2012/11/klasifikasi-teknik-sampling.html
Jumat, 18 Oktober 2013
Pengaruh Pendidikan pada Pembangunan
Nama: Valentia Putri Santi
Kelas: 3ID03
NPM: 37411240
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan
zaman menuntut terjadinya pembangunan dari berbagai aspek. Permasalahan selalu
muncul dari setiap pembangunan yang terjadi dan pemecahannya dapat diperoleh
dari ilmu pada pendidikan. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya
manusia untuk pembangunan. Tingkat pendidikan dapat menjadi tolak ukur kekuatan
negara.
Pentingnya pendidikan belum
disadari oleh masyarakat Indonesia. Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia
menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia dan keterpurukan
pembangunan di Indonesia. Masalah pendidikan yang terjadi bukan hanya dari kesadaran
masyarakat, tetapi juga minimnya usaha pemerintah dalam menyelenggarakan
pendidikan.
Perubahan dalam dunia pendidikan diperlukan
Indonesia agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Menyiapkan sumber daya
manusia yang berkualitas merupakan strategi terbaik agar pembangunan Indonesia
dapat berjalan.
1.2 Perumusan Masalah
Perumusan
masalah merupakan pokok inti dari penulisan ini. Perumusan masalah pada
penulisan ini adalah bagaimana perbandingan pendidikan pada negara maju dan
berkembang dan apa perubahan pada Indonesia untuk mengejar keterpurukan
pendidikan yang sedang terjadi.
1.3 Pembatasan Masalah
Pembatasan
masalah digunakan agar masalah yang dibahas tidak menyimpang jauh dari
pembahasan. Berikut pembatasan masalah yang digunakan.
1. Data yang diamati adalah data kuantitatif dan
kualitatif.
2. Pengamatan dilakukan dari segi pendidikan.
3. Negara maju yang diamati adalah Amerika dan
Jepang.
4. Negara berkembang yang diamati adalah
Indonesia.
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan digunakan untuk menjabarkan permasalah secara rinci berdasarkan
perumusan masalah. Berikut penjabaran tujuan penulisan.
1. Mengetahui tingkat pendidikan pada negara maju
dan berkembang.
2. Mengetahui tingkat kesadaran masyarakat pada
negar maju dan berkembang.
3. Mengetahui kebijakan pemerintah tentang
pendidikan pada negara maju dan berkembang.
4. Mengetahui perubahan yang diperlukan
Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
